Serat optik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Serat optik.
Serat optik adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari
sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber
cahaya yang digunakan biasanya adalahlaser atau LED[1]. Kabel ini berdiameter lebih kurang 120 mikrometer. Cahaya yang ada di
dalamserat optik tidak keluar karena indeks bias dari
kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser mempunyai
spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi
sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi.
Perkembangan teknologi serat optik saat ini, telah
dapat menghasilkan pelemahan (attenuation) kurang dari 20 decibels (dB)/km.
Dengan lebar jalur (bandwidth) yang besar sehingga kemampuan dalam
mentransmisikan data menjadi lebih banyak dan cepat dibandingan dengan penggunaan
kabel konvensional. Dengan demikian serat optik sangat cocok digunakan terutama
dalam aplikasi sistem telekomunikasi[2]. Pada prinsipnya serat optik memantulkan dan membiaskan sejumlah cahaya
yang merambat didalamnya.
Efisiensi dari serat optik ditentukan oleh kemurnian
dari bahan penyusun gelas/kaca. Semakin murni bahan gelas, semakin sedikit
cahaya yang diserap oleh serat optik.
|
Daftar isi
|
Penggunaan cahaya sebagai pembawa informasi sebenarnya
sudah banyak digunakan sejak zaman dahulu, baru sekitar tahun 1930-an para
ilmuwan Jerman mengawali eksperimen untuk mentransmisikan
cahaya melalui bahan yang bernama serat optik. Percobaan ini juga masih
tergolong cukup primitif karena hasil yang dicapai tidak bisa langsung
dimanfaatkan, namun harus melalui perkembangan dan penyempurnaan lebih lanjut
lagi. Perkembangan selanjutnya adalah ketika para ilmuawan Inggris pada tahun 1958 mengusulkan prototipeserat optik yang sampai
sekarang dipakai yaitu yang terdiri atas gelas inti yang dibungkus oleh gelas
lainnya. Sekitar awal tahun 1960-an perubahan fantastis terjadi di Asia yaitu
ketika para ilmuwan Jepang berhasil membuat jenis serat optik yang
mampu mentransmisikan gambar.
Di lain pihak para ilmuwan selain mencoba untuk
memandu cahaya melewati gelas (serat optik) namun juga mencoba untuk
”menjinakkan” cahaya. Kerja keras itupun berhasil ketika sekitar 1959 laser
ditemukan. Laser beroperasi pada daerah frekuensi tampak sekitar 1014 Hertz-15
Hertz atau ratusan ribu kali frekuensi gelombang mikro.
Pada awalnya peralatan penghasil sinar laser masih
serba besar dan merepotkan. Selain tidak efisien, ia baru dapat berfungsi pada
suhu sangat rendah. Laser juga belum terpancar lurus. Pada kondisi cahaya
sangat cerah pun, pancarannya gampang meliuk-liuk mengikuti kepadatan atmosfer.
Waktu itu, sebuah pancaran laser dalam jarak 1 km, bisa tiba di tujuan akhir
pada banyak titik dengan simpangan jarak hingga hitungan meter.
Sekitar tahun 60-an ditemukan serat optik yang
kemurniannya sangat tinggi, kurang dari 1 bagian dalam sejuta. Dalam bahasa
sehari-hari artinya serat yang sangat bening dan tidak menghantar listrik ini
sedemikian murninya, sehingga konon, seandainya air laut itu semurni serat
optik, dengan pencahayaan cukup mata normal akan dapat menonton lalu-lalangnya
penghuni dasar Samudera Pasifik.
Seperti halnya laser, serat optik pun harus melalui
tahap-tahap pengembangan awal. Sebagaimana medium transmisi cahaya, ia sangat
tidak efisien. Hingga tahun 1968 atau berselang dua tahun setelah serat optik
pertama kali diramalkan akan menjadi pemandu cahaya, tingkat atenuasi
(kehilangan)-nya masih 20 dB/km. Melalui pengembangan dalam teknologi material,
serat optik mengalami pemurnian, dehidran dan lain-lain. Secara perlahan tapi
pasti atenuasinya mencapai tingkat di bawah 1 dB/km.
·
1917 Albert Einstein memperkenalkan teori pancaran terstimulasi dimana jika ada atom dalam tingkatan energi tinggi
·
1954 Charles Townes, James Gordon, dan Herbert Zeiger dari Universitas Columbia USA, mengembangkan maser yaitu penguatgelombang mikro dengan pancaran terstimulasi, dimana molekul dari gasamonia memperkuat dan menghasilkan gelombang elektromagnetik. Pekerjaan ini
menghabiskan waktu tiga tahun sejak ide Townes pada tahun 1951 untuk mengambil
manfaat dariosilasi frekuensi tinggi molekular untuk membangkitkan gelombang dengan panjang
gelombang pendek pada gelombang radio.
·
1958 Charles Townes dan ahli fisika Arthur Schawlow mempublikasikan
penelitiannya yang menunjukan bahwa maser dapat dibuat untuk dioperasikan pada
daerah infra merah dan spektrum tampak, dan menjelaskan tentang konsep laser.
·
1960 Laboratorium Riset Bell
dan Ali Javan serta koleganya William Bennett, Jr., dan Donald Herriott
menemukan sebuah pengoperasian secara berkesinambungan dari laser helium-neon.
·
1960 Theodore Maiman, seorang
fisikawan dan insinyur elektro dari Hughes Research Laboratories, menemukan
sumber laser dengan menggunakan sebuah kristal batu rubi sintesis sebagai
medium.
·
1961 Peneliti industri Elias
Snitzer dan Will Hicks mendemontrasikan sinar laser yang diarahkan melalui
serat gelas yang tipis(serat optik). Inti serat gelas tersebut cukup kecil yang
membuat cahaya hanya dapat melewati satu bagian saja tetapi banyak ilmuwan
menyatakan bahwa serat tidak cocok untuk komunikasi karena rugi rugi cahaya
yang terjadi karena melewati jarak yang sangat jauh.
·
1961 Penggunaan laser yang
dihasilkan dari batu Rubi untuk keperluan medis di Charles Campbell of the
Institute of Ophthalmology at Columbia-Presbyterian Medical Center dan Charles
Koester of the American Optical Corporation menggunakan prototipe ruby laser
photocoagulator untuk menghancurkan tumor pada retina pasien.
·
1962 Tiga group riset
terkenal yaitu General Electric, IBM, dan MIT’s Lincoln Laboratory secara simultan mengembangkan gallium arsenide laser
yang mengkonversikan energi listrk secara langsung ke dalam cahaya infra merah
dan perkembangan selanjutnya digunakan untuk pengembangan CD dan DVD player serta penggunaan pencetak laser.
·
1963 Ahli fisika Herbert
Kroemer mengajukan ide yaitu heterostructures, kombinasi dari lebih
dari satu semikonduktor dalam layer-layer untuk mengurangi kebutuhan energi
untuk laser dan membantu untuk dapat bekerja lebih efisien. Heterostructures
ini nantinya akan digunakan pada telepon seluler dan peralatan elektronik lainnya.
·
1966 Charles Kao dan George Hockham yang melakukan penelitian di Standard Telecommunications Laboratories
Inggris mempublikasikan penelitiannya tentang kemampuan serat optik dalam mentransmisikan
sinar laser yang sangat sedikit rugi-ruginya dengan menggunakan serat kaca yang
sangat murni. Dari penemuan ini, kemudian para peneliti lebih fokus pada
bagaimana cara memurnikan bahan serat kaca tersebut.
·
1970 Ilmuwan Corning Glass Works yaitu Donald Keck, Peter
Schultz, dan Robert Maurer melaporkan penemuan serat optik yang memenuhi
standar yang telah ditentukan oleh Kao dan Hockham. Gelas yang paling murni
yang dibuat terdiri atas gabungan silika dalam tahap uap dan mampu mengurangi
rugi-rugi cahaya kurang dari 20 decibels per kilometer, yang selanjutnya pada 1972, tim ini menemukan gelas dengan rugi-rugi
cahaya hanya 4 decibels per kilometer. Dan juga pada tahun 1970, Morton Panish
dan Izuo Hayashi dari Bell Laboratories dengan tim Ioffe Physical Institute
dari Leningrad, mendemontrasikan laser semikonduktor yang dapat dioperasikan
pada temperatur ruang. Kedua penemuan
tersebut merupakan terobosan dalam komersialisasi penggunaan fiber optik.
·
1973 John MacChesney dan Paul
O. Connor pada Bell Laboratories mengembangkan proses pengendapan uap kimia ke bentukultratransparent glass yang kemudian
menghasilkan serat optik yang mempunyai rugi-rugi sangat kecil dan diproduksi secara masal.
Proses pengendapan uap
kimia untuk memodifikasi serat optik
·
1975 Insinyur pada Laser
Diode Labs mengembangkan Laser Semikonduktor, laser komersial
pertama yang dapat dioperasikan pada suhu kamar.
·
1977 Perusahaan telepon memulai penggunaan serat optik yang
membawa lalu lintas telepon. GTE membuka jalur antara
Long Beach dan Artesia, California, yang menggunakan transmisi LED. Bell Labs mendirikan sambungan yang sama pada sistem telepon di Chicago
dengan jarak 1,5 mil di bawah tanah yang menghubungkan 2 switching station.
·
1980 Industri serat optik
benar-benar sudah berkibar, sambungan serat optik telah ada di kota kota besar
di Amerika, AT&T mengumumkan akan menginstal jaringan serat
optik yang menghubungkan kota kota antara Boston dan Washington D.C., kemudian
dua tahun kemudian MCImengumumkan untuk
melakukan hal yang sama. Raksasa-raksasa elektronik macam ITT atau STL mulai
memainkan peranan dalam mendalami riset-riset serat optik.
·
1987 David Payne dari Universitas Southampton memperkenalkan optical amplifiers yang dikotori (dopped) oleh elemen erbium,
yang mampu menaikan sinyal cahaya tanpa harus mengkonversikan terlebih dahulu
ke dalam energi listrik.
·
1988 Kabel Translantic yang pertama menggunakan serat kaca yang sangat transparan, dan hanya
memerlukan repeater untuk setiap 40 mil.
·
1991 Emmanuel Desurvire dari
Bell Laboratories serta David Payne dan P. J. Mears dari Universitas
Southampton mendemontrasikan optical amplifiers yang terintegrasi dengan kabel serat optik tersebut. Dengan keuntungannya
adalah dapat membawa informasi 100 kali lebih cepat dari pada kabel dengan
penguat elektronik (electronic amplifier).
·
1996 TPC-5 merupakan jenis
kabel serat optik yang pertama menggunakan penguat optik. Kabel ini melewati
samudera pasifik mulai dari San Luis Obispo, California, ke Guam, Hawaii, dan Miyazaki, Jepang, dan kembali ke Oregon coast dan mampu untuk menangani 320,000 panggilan
telepon.
·
1997 Serat optik
menghubungkan seluruh dunia, Link Around the Globe (FLAG) menjadi jaringan kabel terpanjang di
seluruh dunia yang menyediakan infrastruktur untuk generasi internet terbaru.
Berdasarkan penggunaannya maka SKSO dibagi atas
beberapa generasi yaitu :
Sistem masih sederhana dan menjadi dasar bagi sistem
generasi berikutnya, terdiri dari : alat encoding : mengubah input
(misal suara) menjadi sinyal listrik transmitter : mengubah sinyal listrik
menjadi sinyal gelombang, berupa LED dengan panjang gelombang 0,87 mm. serat
silika : sebagai penghantar sinyal gelombang repeater : sebagai
penguat gelombang yang melemah di perjalanan receiver : mengubah sinyal
gelombang menjadi sinyal listrik, berupa fotodetektor alat decoding :
mengubah sinyal listrik menjadi output (misal suara) Repeater bekerja melalui
beberapa tahap, mula-mula ia mengubah sinyal gelombang yang sudah melemah
menjadi sinyal listrik, kemudian diperkuat dan diubah kembali menjadi sinyal
gelombang. Generasi pertama ini pada tahun 1978 dapat mencapai kapasitas
transmisi sebesar 10 Gb.km/s.
Untuk mengurangi efek dispersi, ukuran teras serat
diperkecil agar menjadi tipe mode tunggal. Indeks bias kulit dibuat
sedekat-dekatnya dengan indeks bias teras. Dengan sendirinya transmitter juga
diganti dengan diode laser, panjang gelombang yang dipancarkannya 1,3 mm.
Dengan modifikasi ini generasi kedua mampu mencapai kapasitas transmisi 100
Gb.km/s, 10 kali lipat lebih besar daripada generasi pertama.
Terjadi penyempurnaan pembuatan serat silika dan
pembuatan chip diode laser berpanjang gelombang 1,55 mm. Kemurnian bahan silika
ditingkatkan sehingga transparansinya dapat dibuat untuk panjang gelombang
sekitar 1,2 mm sampai 1,6 mm. Penyempurnaan ini meningkatkan kapasitas
transmisi menjadi beberapa ratus Gb.km/s.
Dimulainya riset dan pengembangan sistem koheren,
modulasinya yang dipakai bukan modulasi intensitas melainkan modulasi
frekuensi, sehingga sinyal yang sudah lemah intensitasnya masih dapat
dideteksi. Maka jarak yang dapat ditempuh, juga kapasitas transmisinya, ikut
membesar. Pada tahun 1984 kapasitasnya sudah dapat menyamai kapasitas sistem
deteksi langsung. Sayang, generasi ini terhambat perkembangannya karena
teknologi piranti sumber dan deteksi modulasi frekuensi masih jauh tertinggal.
Tetapi tidak dapat disangkal bahwa sistem koheren ini punya potensi untuk maju
pesat pada masa-masa yang akan datang.
Pada generasi ini dikembangkan suatu penguat optik
yang menggantikan fungsi repeater pada generasi-generasi sebelumnya. Sebuah
penguat optik terdiri dari sebuah diode laser InGaAsP (panjang gelombang 1,48
mm) dan sejumlah serat optik dengan doping erbium (Er) di terasnya. Pada saat
serat ini disinari diode lasernya, atom-atom erbium di dalamnya akan
tereksitasi dan membuat inversi populasi*, sehingga bila ada sinyal lemah masuk
penguat dan lewat di dalam serat, atom-atom itu akan serentak mengadakan
deeksitasi yang disebut emisi terangsang (stimulated emission) Einstein.
Akibatnya sinyal yang sudah melemah akan diperkuat kembali oleh emisi ini dan
diteruskan keluar penguat. Keunggulan penguat optik ini terhadap repeater
adalah tidak terjadinya gangguan terhadap perjalanan sinyal gelombang, sinyal
gelombang tidak perlu diubah jadi listrik dulu dan seterusnya seperti yang
terjadi pada repeater. Dengan adanya penguat optik ini kapasitas transmisi
melonjak hebat sekali. Pada awal pengembangannya hanya dicapai 400 Gb.km/s,
tetapi setahun kemudian kapasitas transmisi sudah menembus harga 50 ribu
Gb.km/s.
Pada tahun 1988 Linn F. Mollenauer memelopori sistem
komunikasi soliton. Soliton adalah pulsa gelombang yang terdiri dari banyak
komponen panjang gelombang. Komponen-komponennya memiliki panjang gelombang
yang berbeda hanya sedikit, dan juga bervariasi dalam intensitasnya. Panjang
soliton hanya 10-12 detik dan dapat dibagi menjadi beberapa komponen yang
saling berdekatan, sehingga sinyal-sinyal yang berupa soliton merupakan
informasi yang terdiri dari beberapa saluran sekaligus (wavelength division
multiplexing). Eksperimen menunjukkan bahwa soliton minimal dapat membawa 5
saluran yang masing-masing membawa informasi dengan laju 5 Gb/s. Cacah saluran
dapat dibuat menjadi dua kali lipat lebih banyak jika digunakan multiplexing
polarisasi, karena setiap saluran memiliki dua polarisasi yang berbeda.
Kapasitas transmisi yang telah diuji mencapai 35 ribu Gb.km/s.
Cara kerja sistem soliton ini adalah efek Kerr, yaitu
sinar-sinar yang panjang gelombangnya sama akan merambat dengan laju yang
berbeda di dalam suatu bahan jika intensitasnya melebihi suatu harga batas.
Efek ini kemudian digunakan untuk menetralisir efek dispersi, sehingga soliton
tidak akan melebar pada waktu sampai di receiver. Hal ini sangat menguntungkan
karena tingkat kesalahan yang ditimbulkannya amat kecil bahkan dapat diabaikan.
Tampak bahwa penggabungan ciri beberapa generasi teknologi serat optik akan
mampu menghasilkan suatu sistem komunikasi yang mendekati ideal, yaitu yang
memiliki kapasitas transmisi yang sebesar-besarnya dengan tingkat kesalahan
yang sekecil-kecilnya yang jelas, dunia komunikasi abad 21 mendatang tidak
dapat dihindari lagi akan dirajai oleh teknologi serat optik.
1. Lebar jalur besar dan
kemampuan dalam membawa banyak data, dapat memuat kapasitas
informasi yang sangat besar dengan kecepatan transmisi mencapai gigabit-per detik dan menghantarkan informasi jarak jauh
tanpa pengulangan
2. Biaya pemasangan dan
pengoperasian yang rendah serta tingkat keamanan yang lebih tinggi
3. Ukuran kecil dan ringan,
sehingga hemat pemakaian ruang
Secara garis besar kabel serat optik terdiri dari 2 bagian utama, yaitu cladding dan core [4]. Cladding adalah selubung dari
inti (core). Cladding mempunyai indek bias lebih rendah dari pada core akan memantulkan kembali cahaya yang
mengarah keluar dari core kembali kedalam core lagi.
Bagian-bagian serat
optik jenis single mode
Dalam aplikasinya serat optik biasanya diselubungi
oleh lapisan resin yang disebut denganjacket,
biasanya berbahan plastik. Lapisan ini dapat menambah kekuatan untuk kabel serat optik, walaupun
tidak memberikan peningkatan terhadap sifat gelombang pandu optik pada kabel
tersebut. Namun lapisan resin ini dapat menyerap cahaya dan mencegah
kemungkinan terjadinya kebocoran cahaya yang keluar dari selubung inti. Serta
hal ini dapat juga mengurangi cakap silang (cross talk) yang mungkin terjadi[2].
Pembagian serat optik dapat dilihat dari 2 macam
perbedaan :
·
Single mode : serat optik dengan inti (core)
yang sangat kecil (biasanya sekitar 8,3 mikron), diameter intinya sangat sempit
mendekati panjang gelombang sehingga cahaya yang masuk ke dalamnya
tidak terpantul-pantul ke dinding selongsong (cladding). Bahagian inti
serat optik single-mode terbuat dari bahan kaca silika (SiO2) dengan sejumlah kecil kaca Germania (GeO2) untuk meningkatkan indeks biasnya.
Untuk mendapatkan performa yang baik pada kabel ini, biasanya untuk ukuran
selongsongnya adalah sekitar 15 kali dari ukuran inti (sekitar 125 mikron).
Kabel untuk jenis ini paling mahal, tetapi memiliki pelemahan (kurang dari 0.35dB
per kilometer), sehingga memungkinkan kecepatan yang sangat tinggi dari jarak
yang sangat jauh. Standar terbaru untuk kabel ini adalah ITU-T G.652D, dan
G.657[6].
·
Multi mode : serat optik
dengan diameter core yang agak besar yang membuat laser di dalamnya akan
terpantul-pantul di dinding cladding yang dapat menyebabkan berkurangnya
bandwidth dari serat optik jenis ini.
·
Graded indeks : indeks bias core semakin mendekat
ke arah cladding semakin kecil. Jadi pada graded indeks, pusat core memiliki
nilai indeks bias yang paling besar. Serat graded indeks memungkinkan untuk
membawa bandwidth yang lebih besar, karena pelebaran pulsa yang terjadi dapat
diminimalkan.
Kabel serat optik
Pelemahan (Attenuation) cahaya sangat penting diketahui terutama dalam
merancang sistem telekomunikasi serat optik itu sendiri. Pelemahan cahaya dalam
serat optik adalah adanya penurunan rata-rata daya optik pada kabel serat
optik, biasanya diekspresikan dalam decibel (dB) tanpa tanda negatif. Berikut ini
beberapa hal yang menyumbang kepada pelemahan cahaya pada serat optik[7]:
1. Penyerapan (Absorption)
Kehilangan cahaya yang disebabkan adanya kotoran dalam serat optik.
Kehilangan cahaya yang disebabkan adanya kotoran dalam serat optik.
2. Penyebaran (Scattering)
3. Kehilangan radiasi
(radiative losses)
Reliabilitas dari serat optik dapat ditentukan dengan
satuan BER (Bit error rate). Salah satu ujung serat optik diberi masukan data tertentu dan ujung yang
lain mengolah data itu. Dengan intensitas laser yang rendah dan dengan panjang
serat mencapai beberapa km, maka akan menghasilkan kesalahan. Jumlah kesalahan
persatuan waktu tersebut dinamakan BER. Dengan diketahuinya BER maka, Jumlah
kesalahan pada serat optik yang sama dengan panjang yang berbeda dapat
diperkirakan besarnya.
Dalam standarisasinya kode warna dari selubung luar (jacket)
kabel serat optik jenis Patch Cord adalah sebagai berikut:
|
Warna selubung
luar/jacket
|
Artinya
|
|
Kuning
|
serat optik single-mode
|
|
Oren
|
serat optik multi-mode
|
|
Aqua
|
Optimal laser 10 giga 50/125 mikrometer
serat optik multi-mode
|
|
Abu-Abu
|
Kode warna serat optik multi-mode, yang
tidak digunakan lagi
|
|
Biru
|
Kadang masih digunakan dalam model
perancangan
|
Pada kabel serat optik, sambungan ujung terminal atau
disebut juga konektor, biasanya memiliki tipe standar seperti berikut:
1. FC (Fiber Connector):
digunakan untuk kabel single mode dengan akurasi yang sangat tinggi dalam
menghubungkan kabel dengan transmitter maupun receiver. Konektor ini
menggunakan sistem drat ulir dengan posisi yang dapat diatur, sehingga ketika
dipasangkan ke perangkat lain, akurasinya tidak akan mudah berubah.
2. SC (Subsciber
Connector): digunakan untuk kabel single mode, dengan sistem dicabut-pasang.
Konektor ini tidak terlalu mahal, simpel, dan dapat diatur secara manual serta
akurasinya baik bila dipasangkan ke perangkat lain.
3. ST (Straight Tip):
bentuknya seperti bayonet berkunci hampir mirip dengan konektor BNC. Sangat
umum digunakan baik untuk kabel multi mode maupun single mode. Sangat mudah
digunakan baik dipasang maupun dicabut.
4. Biconic: Salah satu
konektor yang kali pertama muncul dalam komunikasi fiber optik. Saat ini sangat
jarang digunakan.
5. D4: konektor ini hampir
mirip dengan FC hanya berbeda ukurannya saja. Perbedaannya sekitar 2 mm pada
bagian ferrule-nya.
6. SMA: konektor ini
merupakan pendahulu dari konektor ST yang sama-sama menggunakan penutup dan
pelindung. Namun seiring dengan berkembangnya ST konektor, maka konektor ini
sudah tidak berkembang lagi penggunaannya.
7. E200
Selanjutnya jenis-jenis konektor tipe kecil:
1. LC
2. SMU
3. SC-DC
Selain itu pada konektor tersebut biasanya menggunakan
warna tertentu dengan maksud sebagai berikut:
|
Warna Konektor
|
Arti
|
Keterangan
|
|
|
Biru
|
Physical Contact (PC), 0°
|
yang paling umum digunkan untuk serat
optik single-mode.
|
|
|
Hijau
|
Angle Polished (APC), 8°
|
sudah tidak digunakan lagi untuk serat
optik multi-mode
|
|
|
Hitam
|
Physical Contact (PC), 0°
|
||
|
Abu-abu,
|
Krem
|
Physical Contact (PC), 0°
|
serat optik multi-mode
|
|
Putih
|
Physical Contact (PC), 0°
|
||
|
Merah
|
Penggunaan khusus
|
||
1. ^ Agrawal, G.P., 2002, Fiber-optic
communication systems, Ed. 3, New-York: John Wiley & Sons, Inc.
3. ^ a b Keiser, Gerard, (2000), Optical
Fiber Communication, 3rd ed., McGraw-Hill, Singapore, ISBN 0-07-116468-5.
4. ^ Marcatili, E.A.J., Objectives
of early fibers: Evolution of fiber types, in S.E. Miller and A.G.
Chynoweth, eds., Optical Fiber Telecommunication, Academic, New
York, 1979.
6. ^ Oliviero, Andrew, and Woodward,
Bill, (2009), Cabling: the complete guide to copper and fiber-optic
networking, Indianapolis:Wiley Publishing, Inc., ISBN 978-0-470-47707-6.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar