BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk
mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya
perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan
valid. Pada abad 17 terdapat 30 jenis skala yang membuat para ilmuan
kebingungan. Hal ini memberikan inspirasi pada Anders Celcius (1701
- 1744) sehingga pada tahun 1742 dia memperkenalkan skala yang digunakan
sebagai pedoman pengukuran suhu. Skala ini diberinama sesuai dengan namanya
yaitu Skala Celcius. Apabila benda didinginkan terus maka suhunya akan semakin
dingin dan partikelnya akan berhenti bergerak, kondisi ini disebut kondisi nol
mutlak. Skala Celcius tidak bisa menjawab masalah ini maka Lord Kelvin (1842
- 1907) menawarkan skala baru yang diberi nama Kelvin. Skala kelvin dimulai
dari 273 K ketika air membeku dan 373 K ketika air mendidih. Sehingga nol mutlak
sama dengan 0 K atau -273°C. Selain skala tersebut ada juga skala Reamur dan
Fahrenheit. Untuk skala Reamur air membeku pada suhu 0°R dan mendidih pada suhu
80°R sedangkan pada skala Fahrenheit air membuka pada suhu 32°F dan mendidih
pada suhu 212°F.
Dalam bukunya Robert Briffault (1938) berjdul The
Making of Humanity disebutkan bahwa Ibnu Sina merupakan ilmuwan
pertaman yang menggunakan termometer udara untuk mengukur suhu. Dalam
kehidupan sehari-hari yang banyak kita temukan adalah jenis termometer badan
baik berupa termometer pipa kapiler ataupun termometer digital. Termometer pipa
kapiler yang menggunakan merkuri dapat membeku pada suhu – 400C dan
mendidih pada suhu 3600C.
Suhu
menurut Kangingan (2007:52-53) adalah suatu besaran yang menyatakan ukuran
derajat panas atau dinginnya suatu benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut.
Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda.
Suhu juga disebut temperatur.Benda yang panas memiliki suhu lebih tinggi
dibandingkan benda yang dingin. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah
termometer. Namun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu
cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan
teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan valid.
Temperatur merupakan ukuran mengenai panas atau
dinginnya benda (Giancoli, 2001:449). Banyak sifat zat yang berubah
terhadap temperatur. Sebagian besar zat memuai saat dipanaskan, seperti besi
akan memanjang saat panas daripada saat kondisi dingin. Jalan dan trotoar beton
pun memuai dan menyusut terhadap tempatur yang menjadi alasan ditempatkannya
pemisah yang bisa ditekan atau bisa memuai pada jarak tertentu di jembatan maupun
jalanan beton.
Hambatan listrik materi zat juga berpengaruh
signifikan terhadap temperatur. Demikian pula dengan warna benda, perubahan
warna menunjukkan tempatur tertentu.
Misalnya api warna biru menunjukkan suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan api berwarna merah atau berwarna kuning. Cahaya putih yang dihasilkan dari kawat wolfram (tungsten) dalam bolam pijar berasal dari kawat yang sangat panas. Zat padat besi berwarna jingga hingga putih bila dipanaskan saat ditempa dalam pabrik kendaraan menunjukkan fenomena serupa. Demikian pula dengan bintang-bintang yang berkelap kelip menunjukkan temperatur permukaan bintang-bintang tersebut. Matahari pun dikatakan bintang (kerdil kuning). Suhu permukaan bintang atau matahari yang berdasarkan warna bisa dihitung temperaturnya menggunakan panjang gelombang cahaya yang dipancarkannya.
Misalnya api warna biru menunjukkan suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan api berwarna merah atau berwarna kuning. Cahaya putih yang dihasilkan dari kawat wolfram (tungsten) dalam bolam pijar berasal dari kawat yang sangat panas. Zat padat besi berwarna jingga hingga putih bila dipanaskan saat ditempa dalam pabrik kendaraan menunjukkan fenomena serupa. Demikian pula dengan bintang-bintang yang berkelap kelip menunjukkan temperatur permukaan bintang-bintang tersebut. Matahari pun dikatakan bintang (kerdil kuning). Suhu permukaan bintang atau matahari yang berdasarkan warna bisa dihitung temperaturnya menggunakan panjang gelombang cahaya yang dipancarkannya.
Alat yang dirancang untuk mengukur temperatur
dinamakan termometer. Sebagian besar termometer dirancang peka terhadap
pemuaian. Galileo mengajukan gagasan pertama termometer melalui fenomena
pemuaian gas. Berangsur-angsur evolusi termometer terjadi hingga menjadi
termometer yang berisi cairan dalam gelas. Macam-macam termometer antara
lain : termometer oven, termometer ketel kopi, termometer udara, termometer
hambatan, termistor, termometer kopel.
Untuk menyatakan hasil pengukuran termometer digunakan
skala numerik, skala yang digunakan secara kuantitatif ini yang paling banyak
dipakai adalah skala Celcius, skala Fahrenheit, dan skala yang paling penting
dalam sains adalah skala absolut atau Kelvin (Giancoli, 2001:451).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penjelasan tentang jenis – jenis termometer yang
digunakan dalam kehidupan ?
2. Bagaimana prinsip kerja dari jenis – jenis termometer tersebut ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis – jenis
termometer.
2. Untuk mengetahui prinsip kerja dan kegunaan dari
masing – masing termometer tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian termometer
Termometer menurut Kanginan (2007:54) adalah alat yang
digunakan untuk mengukur suhu dengan tepat dan menyatakannya dengan suatu
angka. Pembuatan termometer pertama kali dipelopori oleh
Galileo Galilei (1564 – 1642) pada tahun 1595. Alat tersebut disebut dengan
termoskop yang berupa labu kosong yang dilengkapi pipa panjang dengan
ujung pipa terbuka. Mula-mula dipanaskan sehingga udara dalam labu mengembang.
Ujung pipa yang terbuka kemudian dicelupkan kedalam cairan berwarna. Ketika
udara dalam tabu menyusut, zat cair masuk kedalam pipa tetapi tidak sampai
labu. Beginilah cara kerja termoskop. Untuk suhu yang berbeda, tinggi kolom zat
cair di dalam pipa juga berbeda. Tinggi kolom ini digunakan untuk menentukan
suhu. Prinsip kerja termometer buatan Galileo berdasarkan pada perubahan volume
gas dalam labu. Tetapi dimasa ini termometer yang sering digunakan terbuat dari bahan cair
misalnya raksa dan alkhohol. Prinsip yang digunakan adalah pemuaian zat cair
ketika terjadi peningkatan suhu benda.
Termometer adalah alat untuk mengukur suhu dengan
cepat dan menyatakan dengan suatu angka. Saat ini banyak jenis-jenis temometer.
Jenis termometer ini tergantung pada jangkauan suhu yang diukur, ketelitian ang
diingkan dan sifat-sifat dari bahan yang digunakan. Contoh
sifat - sifat zat yang biasa digunakan untuk membuat termometer
adalah:
1. Pemuaian suatu
kolom cairan dalam suatu kapiler,
2. Hambatan listrik
dan seutas kawat platina,
3. Beda potensial
pada suatu termokopel,
4. Pemuaian suatu
keeping bimetal,
5. Tekanan gas pada
volum tetap,
6. Radiasi yang dipancarkan
benda.
Beberapa sifat yang mutlak dibutuhkan oleh sebuah termometer adalah:
1. Skalanya mudah
dibaca,
2. Aman untuk
digunakan,
3. Kepekaan
pengukurannya,
4. Lebar jangkauan
suhu yang mampu diukur.
B. Jenis-Jenis
Termometer
1. Termometer
cairan
Jenis termometer yang banyak dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari adalah termometer yang pipa kacanya berisi cairan. Umumnya cairan
akan memuai dengan laju berbeda untuk jangkauan suhu yang berbeda akan tetapi
pengecualian pada raksa yang memiliki pemuaian yang teratur. Jenis-jenis
termometer cairan, yaitu :
a. Termometer raksa
Termometer yang pipa kacanya diisi dengan raksa disebut termometer
raksa. Termometer raksa dengan skala celcius adalah termometer yang umum
dijumpai dalam keseharian. Jangkauan suhu raksa cukup lebar dan sesuai untuk pekerjaan laboratoriun
(-40 derajat Celcius s/d 350 derajat Celcius). Raksa dalam pipa termometer akan memuai jika dipanaskan. Pemuaian mendorong
kolom cairan (raksa) keluar dari pentolan pipa menuju ke pipa
kapiler. Keuntungan menggunakan termometer alkohol :
1) Raksa mudah
dilihat karena mengilap,
2) Volum raksa
berubah secara teratur ketika terjadi perubahan suhu,
3) Raksa tidak
membasahi kaca ketika memuai atau menyusut,
4) Jangkauan suhu
cukup lebar dan sesuai untuk pekerjaan laboratorium (-39oC sampai
dengan 375oC),
5) Raksa dapat
terpanasi secara merata sehingga menunjukkan suhu dengan cepat dan tepat.
Kerugian menggunakan termometer alkohol :
1) Raksa mahal,
2) Raksa tidak
dapat digunakan untuk mengukur suhu yang sangat rendah (misalnya suhu di kutub
utara dan selatan),
3) Raksa termasuk
zat berbahaya (air keras).
Alat ini terdiri dari pipa kapiler yang menggunakan material kaca dengan
kandungan air raksa di ujung bawah. Untuk tujuan pengukuran, pipa ini dibuat
sedemikian rupa sehingga hampa udara. Jika temperatur meningkat, Merkuri akan
mengembang naik ke arah atas pipa dan memberikan petunjuk tentang suhu di
sekitar alat ukur sesuai dengan skala yang telah ditentukan. Adapun cara kerja
secara umum adalah sbb ;
1. Sebelum terjadi
perubahan suhu, volume air raksa berada pada kondisi awal.
2. Perubahan suhu
lingkungan di sekitar termometer direspon air raksa dengan perubahan volume.
3. Volume merkuri
akan mengembang jika suhu meningkat dan akan menyusut jika suhu menurun.
4. Skala pada
termometer akan menunjukkan nilai suhu sesuai keadaan lingkungan.
Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu
akurasi alat ukur sesuai dengan
rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung
dengan standar nasional maupuninternasional dan bahan-bahan
acuan tersertifikasi.
Proses kalibrasi termometer antara lain :
1. Letakkan
silinder termometer di air yang sedang mencair dan tandai poin termometer
disaat seluruh air tersebut berwujud cair seluruhnya. Poin ini adalah poin
titik beku air.
2. Dengan cara yang
sama, tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut mendidih seluruhnya
saat dipanaskan.
3. Bagi panjang
dari dua poin diatas menjadi seratus bagian yang sama.
b. Termometer alkohol
Termometer yang pipa kacanya diisi dengan alkohol disebut termometer
alkohol. Termometer raksa dengan skala Celcius adalah termometer yang
umum dijumpai dalam sehari-hari.
Keuntungan menggunakan termometer alkohol :
1. Lebih murah jika
dibandingkan dengan raksa,
2. Teliti, karena
untuk kenaikan suhu yang kecil, alkohol mengalami volum yang lebih besar,
3. Dapat mengukur
suhu yang sangat dingin (missal suhu di daerah kutub) karena titik beku alkohol
sangat rendah, yaitu -112oC.
Kerugian menggunakan termometer alkohol :
1. Memiliki titik
didih rendah, yaitu 78oC, sehingga pemakaiannya terbatas (tidak
dapat mengukur suhu air ketika mendidih)
2. Tidak berwarna,
sehingga harus diberi warna terlebih dahulu agar mudah terlihat,
3. Membasahi
(melekat) pada dinding kaca.
Air tidak bisa digunakan untuk mengisi pipa termometer karena lima alas an
berikut:
1) Air membasahi
diding kaca, sehingga meninggalkan titik-titik air pada kaca dan ini akan
mempersullit membaca ketinggian air dalam tabung,
2) Air tidak
berwarna, sehingga sulit dibaca batas ketinggiannya,
3) Jangkauan suhu
air terbatas (0oC - 100oC),
4) Perubahan volum
air sangat kecil ketika suhunya dinaikkan,
5) Hasil bacaan
kurang teliti karena air termasuk penghantar panas yang sangat
jelek.
c. Beberapa
termometer cairan dalam kehidupan keseharian
1) Termometer
klinis (termometer badan)
Termometer klinis yang biasa digunakan para dokter, perawat, dan orang tua
untuk mengukur suhu tubuh manusia. Cairan yang digunakan untuk mengisi raksa.
Skala pada termometer ini mencakup sedikit di atas dan di bawah suhu rata-rata
tubuh manusia, yaitu 37oC. Oleh karena itu terendah manusia 35oC
dan suhu tertinggi tidak lebih dari 42oC, angka-angka didesain
antara 35oC sampai dengan 42oC. Jenis-jenis termometer
klinis yang baru, yaitu : termometer klinis analog, digital, dan kristal
cairan. Termometer analog, suhu yang diukur harus dibaca dari angka-angka skala
yang tercetak disamping permukaan raksa dalam pipa kapiler. Termometer klinis
digital, suhu tubuh langsung ditampilkan dalam bentuk angka. Termometer Kristal
cairan, angka-angka pada skala termometer cairan dibuat dari zat-zat kimia yang
berbeda menunjukkan suhu yang berbeda. Penggunaan termometer ini sangat mudah,
tinggal ditempelkan di dahinya kemudian siswa membaca angka yang pada
Kristalnya terbentuk bayangan.
2) Termometer
dinding (termometer ruangan)
Termometer yang sering kita lihat di berbagai ruang. Termometer ini
biasanya digabungkan dengan alat hiasan lain seperti, jam dinding, hiasan
dinding dan lain-lain. Ciri-ciri termometer ruang adalah :
a) Untuk mengukur
suhu ruangan;
b) Menggunakan zat
muai logam (sebagian raksa);
c) Ukuran tendon
dibuat besar agar menjadi lebih peka terhadap perubahan suhu;
d) Biasanya
dipasang menggantung pada ruangan;
e) Merupakan
termometer maksimum.
3) Termometer
maximum dan minimum six-Bellani
Prinsip kerjanya, ketika suhu udara turun alkohol di ruang A menyusut
sehingga raksa di ruang B naik dan mendorong keping baja untuk menunjukkan
angka minimum. Sebaliknya suhu udara naik alkohol di ruang A memuai dan
mendesak raksa di ruang B turun dan raksa di ruang C naik untuk mendorong paku
baja untuk menunjukkan angka maksimum. Kedua keping baja dapat turun karena
ditahan oleh spiral. Untuk mengembalikan keeping baja pada posisi semula
digunakan magnet tetap. Ciri-ciri termometer six-Bellani antara lain :
a) Merupakan
termometer khusus karena hanya digunakan untuk mengukur suhu tertinggi dan
terendah di suatu tempat,
b) Skala ukurnya
antara -20oC sampai 50oC,
c) Menggunakan zat
muai alcohol dan raks dan dilengkapi pula keeping baja sebagai penunjuk skala,
d) Dilengkapi
magnet tetap untuk menarik keeping baja turun melekat pada raksa.
4) Termometer
laboratorium
Termometer laboratorium sering kamu jumpai di ruang laboratorium.
Termometer ini bisa kamu gunakan untuk perlengkapan laboratorium. Termometer
ini menggunakan cairan raksa atau alkhohol. Jika cairan bertambah panas maka
raksa atau alkhohol akan memuai sehingga skala nya bertambah. Agar termometer
sensitif terhadap suhu maka ukuran pipa harus dibuat kecil (pipa kapiler) dan
agar peka terhadap perubahan suhu maka dinding termometer (reservoir) dibuat
setipis mungkin dan bila memungkinkan dibuat dari bahan yang konduktor.
Ciri-ciri termometer laboratorium antara lain:
a) Digunakan untuk
mengukur suhu dalam percobaan, penelitian atau pengukuran ilmiah lainnya,
b) Menggunakan zat
muai raksa,
c) Skala ukurnya
luas, hingga di bawah nol,
d) Terdapat jenis
termometer laboratorium yang tidak diberi skala sehingga dapat digunakan untuk
praktek peneraan skala.
2. Termometer gas
Termometer gas adalah jenis termometer yang
memanfaatkan sifat-sifat termal gas. Ada dua macam termometer gas, yaitu :
a. Termometer yang volume gasnya dijaga tetap, dan tekanan gasnya dijadikan
sifat termometrik dari termometer.
b. Termometer yang
tekanan gasnya dijaga tetap, dan volume gasnya dijadikan sifat termometrik dari
termometer.
Pada prinsipnya, jika suhu naik, tekanan gas naik dan dihasilkan beda
ketinggian h yang lebih besara pada termometer. Karena gas
memuai lebih besar daripada cairan maka termometer gas lebih teliti daripada
termometer cairan. Selain itu dapat mengukur suhu lebih rendah dan lebih tinggi
dibandingkan termometer cairan. Jangkauan suhunya mulai dari -250oC
sampai dengan 1500oC.
3. Termometer zat padat
Termometer zat padat menggunakan prinsip perubahan hambatan logam konduktor
terhadapap suhu sehingga sering juga disebut sebagai termometer
hambatan. Biasanya termometer ini menggunakan kawat platina halus yang
dililitkan pad mika dan dimasukkan dalam tabung perak tipis tahan panas.
a. Termometer
platina
Termometer yang bekerja berdasarkan pada perubahan
tahanan yang terjadi pada sensor termometer karena pengaruh suhumedia/benda
yang diukur suhunya. Termometer ini lebih teliti dan stabil dibandingkan
termokopel dan lebih kuat serta rentang ukur suhu lebih lebar daripada
termistor. Media termometriknya adalah kawat platina. Sifat fisika yang
digunakan perubahan tahanan kawat platina sebagai fungsi suhu. Besaran yang
diukur adalah tahnan listrik, rentang ukurnya -200 ~ 850 0C. Pada kenyataannya,
konsep mengukur suhu menggunakan resistensi lebih mudah dikerjakan dari pada
pengukuran suhu dengan termokopel. Pertama, karena pengukurannya absolut, tidak
diperlukan adanya sambungan atau sambungan dingin sebagai referensi yang
diperlukan. Kedua, cukup kawat tembaga yang digunakan diantara sensor dan
peralatan lainnya karena tidak ada kebutuhan khusus dalam hal ini.
Pengukuran dan Kalibrasi Termometer Digital dengan RTD (Resistance Termometer Devices):
Prinsip kerjanya adalah ketika suhu naik, hambatan
listrik platina naik. Hambatan listrik diukur dengan teliti oleh sebuah
rangkaian jembatan. Keuntungannya, jangkauan suhunya lebar
(-250oC sampai dengan 1500oC, teliti dan peka. Kerugiannya, suhu
tidak dapat dibaca secara langsung, pembacaannya lambat sehingga tidak sesuai
untuk mengukur suhu yang berubah-ubah.
b. Termometer
bimetal
Temometer ini mengandung sebuah keeping bimetal tipis
berbentuk spiral. Prinsipnya, makin besar suhu makin melengkung untuk
menunjukkan suhu yang lebih besar. Jika kendaraan bermotor melaju cepat,
mesinnya cepat panas dan spidometer menunjukkan angka kelajuan yang besar. Jika
kendaraan melaju pelan, mesin tidak cepat panas dan spidometer akan menunjukkan
angka kelajuan yang kecil. Jenis termometer ini adalah termometer bimetal yang
menggunakan logam sebagai bahan untuk menunjukkan adanya perubahan suhu dengan
prinsip logam akan memuai jika dipanaskan dan menyusut jika didinginkan.
Prinsip kerjanya,
keping bimetal dibentuk spiral dan tipis. Ujung spiral bimetal ditahan, atau
tidak bergerak dan ujung lainnya menempel pada gir penunjuk. Semakin besar
suhu, keping bimetal semakin melengkung dan menyebabkan jarum penunjuk bergerak
ke kanan ke angka yang lebih besar. Jika suhu turun, jarum penunjuk bergerak ke
kiri ke arah angka yang lebih kecil. Skala yang dibuat biasa dibentuk lingkaran
c. Termometer resistor
Untuk mengukur suhu
yang tinggi tidak mungkin menggunakan termometer zat cair. Termometer logam
adalah termometer yang paling tepat digunakan dalam industri untuk mengukur
suhu diatas 1.0000 C. Salah satu termometer yang dibuat
berdasarkan perubahan hambatannya adalah termometer hambatan platina. Hambatan
listrik pada seutas kawat logam akan bertambah jika dipanaskan. Sifat
termometrik ini dimanfaatkan untuk mengukur suhu pada termometer hambatan.
Cara kerja termometer
ini adalah dengan menyentuhkan kawat penghantar ke sasaran, misalnya lelehan
besi yang panas pada pengolahan besi atau baja. Panas tersebut direspon oleh
tahanan, kemudian energi listrik yang bersangkutan diubah menjadi energi gerak
yang bisa menunjukkan angka tertentu pada skala suhu.
4. Termometer
termistor
Prinsip kerjanya adalah ketika suhu naik, hambatan
termistor turun. Hambatan listrik diukur dengan suatu rangkaian yang mengandung
sebuah skala yang dikalibrasi dalam derajat suhu. Keuntungannya, dapat
dihubungkan ke rangkaian lain atau komputer. Kerugiannya, jangkauan
suhunya terbatas (-25oC sampai dengan 180oC).
5. Termometer
termokopel
Pada dunia elektronika, termokopel merupakan sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah
perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Termokopel yang sederhana dapat dipasang, dan memiliki
jenis konektor standar yang sama, serta dapat mengukur temperatur dalam
jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1
°C.
Ada dua jenis yang digunakan di industri, yakni
thermocouple dan resistance termometer. Biasanya, industri menggunakan nominal
resistan 100 ohm pada 0 °C sehingga disebut sebagai sensor Pt-100. Pt adalah
simbol untuk 174 platinum, sensivitas standar sensor 100 ohm adalah nominal
0.385 ohm/°C, RTDs dengan sensivitas 0.375 dan 0.392 ohm/°C juga
tersedia. Termometer ini terdiri dari dua kawat yang dibuat dari bahan
logam yang berbeda jenis dan dihubungkan ke sebuah amperemeter. Prinsip
kerjanya adalah suhu berbeda akan menghasilkan arus listrik yang berbeda.
Cara Kerja Termokopel :
Pada tahun 1821, seorang fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck menemukan bahwa
sebuah konduktor (semacam logam) yang diberi perbedaan panas secara gradien
akan menghasilkan tegangan listrik. Hal ini disebut sebagai efek termoelektrik.
Untuk mengukur perubahan panas ini, gabungan dua macam konduktor sekaligus
sering dipakai pada ujung benda panas yang diukur. Konduktor tambahan ini
kemudian akan mengalami gradiasi suhu, dan mengalami perubahan tegangan secara
berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda. Menggunakan logam yang berbeda
untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan yang berbeda, meninggalkan
perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan pengukuran, yang bertambah
sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70 microvolt
tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam modern.
Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari
biaya, ketersediaanya, kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan
hasil. Sangat penting diingat bahwa termokopel mengukur perbedaan temperatur di
antara 2 titik, bukan temperatur absolut.
Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan (sambungan
yang dingin) dijaga sebagai temperatur referensi, sedang yang lain dihubungkan
pada objek pengukuran. Termokopel dapat dihubungkan secara seri satu sama lain
untuk membuat termopile, dimana tiap sambungan yang panas diarahkan ke suhu
yang lebih tinggi dan semua sambungan dingin ke suhu yang lebih rendah.
Dengan begitu, tegangan pada setiap termokopel menjadi
naik, yang memungkinkan untuk digunakan pada tegangan yang lebih tinggi. Dengan
adanya suhu tetapan pada sambungan dingin, yang berguna untuk pengukuran di
laboratorium, secara sederhana termokopel tidak mudah dipakai untuk kebanyakan
indikasi sambungan lansung dan instrumen kontrol.
Di sini, tegangan yang berasal dari hubungan dingin
yang diketahui dapat disimulasikan, dan koreksi yang baik dapat diaplikasikan.
Hal ini dikenal dengan kompensasi hubungan dingin. Biasanya termokopel
dihubungkan dengan alat indikasi oleh kawat yang disebut kabel ekstensi atau
kompensasi. Tujuannya sudah jelas. Kabel ekstensi menggunakan kawat-kawat
dengan jumlah yang sama dengan kondoktur yang dipakai pada Termokopel itu
sendiri.
Keuntungannya, jangkauan ukuran suhu besar mulai dari -100oC sampai
dengan 1500oC, ukuran kecil, mengukur suhu dengan cepat, dan dapat
dihubungkan ke rangkaian lain atau computer. Kerugiannya, kurang
teliti jika dibandingkan gas volum konstan dan termometer platina.
6. Termometer Optis
a. Pirometer
Pirometer (Pyrometer) adalah termometer
yang digunakan untuk mengukur suhu yang sangat tinggi (di atas 1000OC),
contoh : suhu peleburan logam dan suhu permukaan matahari. Prinsip kerja alat
ini adalah mengukur radiasi yang dipanaskan oleh benda tersebut. Jenis
pirometer dua macam, yaitu pirometer optik dan pirometer radiasi total.
b. Termometer inframerah
Termometers Infra Merah mengukur suhu menggunakan
radiasi kotak hitam (biasanya infra merah) yang dipancarkan objek. Kadang
disebut termometer laser jika menggunakan laser untuk membantu pekerjaan
pengukuran, atau termometer tanpa sentuhan untuk menggambarkan kemampuan alat
mengukur suhu dari jarak jauh. Dengan mengetahui jumlah energi infra merah yang
dipancarkan oleh objek dan emisi nya, Temperatur objek dapat dibedakan.
Desain utama terdiri dari lensa pemfokus energi infra
merah pada detektor, yang mengubah energi menjadi sinyal elektrik yang bisa
ditunjukkan dalam unit temperatur setelah disesuaikan dengan variasi temperatur
lingkungan. Konfigurasi fasilitas pengukur suhu ini bekerja dari jarak jauh
tanpa menyentuh objek. Dengan demikian, termometer infra merah berguna mengukur
suhu pada keadaan dimana termokopel atau sensor tipe lainnya tidak dapat
digunakan atau tidak menghasilkan suhu yang akurat untuk beberapa keperluan.
Cara menggunakan termometer inframerah adalah dengan
cara menekan tombol sampai menunjukkan angka tertinggi, sambil mengarahkan
sinar inframerah ke sasaran yang dituju seperti pada besi yang masih membara
pada pabrik pengolahan besi atau baja. Sinar yang diarahkan ke logam akan
memantul dan pantulan tersebut akan direspon oleh sensor penerima sehingga
termometer inframerah menunjukkan angkanya.
Termometers Infrared dapat digunakan untuk beberapa
fungsi pengamatan temperatur. Beberapa contoh, antara lain:
1) Mendeteksi awan
untuk sistem operasi teleskop jarak jauh.
2) Memeriksa
peralatan mekanika atau kotak sakering listrik atau saluran hotspot
3) Memeriksa suhu
pemanas atau oven, untuk tujuan kontrol dan kalibrasi
4) Mendeteksi titik
api/menunjukkan diagnosa pada produksi papan rangkaian listrik
5) Memeriksa titik
api bagi pemadam kebakaran
6) Mendeteksi suhu
tubuh makhluk hidup, seperti manusia, hewan, dll
7) Memonitor proses
pendinginan atau pemanasan material, untuk penelitian dan pengembangan atau
quality control pada manufaktur
Jenis Sensor :
1) Sistem
Pencitraan Garis Infra Merah, biasanya membantu menentukan titik api yang
penting pada pencerminan putar, untuk secara terus-menerus memindai permukaan
yang luas pada ruang. Alat ini banyak digunakan pada manufaktur yang melibatkan
konveyer atau proses jaring-jaring, seperti lembaran kaca besar atau logam yang
keluar dari tungku, pabrik dan kertas, atau tumpukan material yang terus
menerus sepanjang sabuk konveyer.
2) Kamera Infra
Merah, Termometer infra merah yang didesain khusus sebagai kamera, memonitor
banyak titik pada saat yang sama, hasilnya berupa gambar 2 dimensi, di mana
tiap pixel menunjukkan temperatur. Teknologi ini umumnya membutuhkan banyak
prosesor dan software daripada sistem sebelumnya, digunakan memindai area yang
luas. Aplikasi yang umum termasuk untuk memonitor batas negara bagi militer,
pengawasan kualitas pada proses manufaktur, dan pengawasan peralatan atau ruang
kerja yang panas/dingin untuk tujuan keselamatan dan pemeliharaan.
7. Termometer Digital
Termometer digital, biasanya menggunakan termokopel
sebagai sensornya untuk membaca perubahan nilai tahanan. Secara sederhana
termokopel berupa dua buah kabel dari jenis logam yg berbeda yang ujungnya,
hanya ujungnya saja, disatukan (dilas). Titik penyatuan ini disebut hot
junction. Prinsip kerjanya memanfaatkan karakteristik hubungan antara tegangan
(volt) dengan temperatur. Setiap jenis logam, pada temperatur tertentu memiliki
tegangan tertentu pula. Pada temperatur yang sama, logam A memiliki tegangan
yang berbeda dengan logam B, terjadilah beda tegangan (kecil sekali, miliVolt)
yang dapat dideteksi. Jadi dari input temperatur lingkungan setelah melalui
termokopel terdeteksi sebagai perbedaan tegangan (volt). Beda tegangan ini
kemudian dikonversikan kembali nilai arusnya melalui pengkomparasian dengan
nilai acuan dan nilai offset di bagian komparator, fungsinya untuk
menerjemahkan setiap satuan amper ke dalam satuan volt kemudian dijadikan
besaran temperatur yang ditampilkan melalui layar/monitor berupa seven segmen
yang menunjukkan temperatur yang dideteksi oleh termokopel.
Termokopel ini macam-macam,
tergantung jenis logam yang digunakan. Jenis logam akan menentukan rentangtemperatur yang bisa diukur (termokopel suhu badan
(temperatur rendah) berbeda dengan termokopel untuk mengukur temperatur tungku
bakar (temperatur tinggi)), juga sensitivitasnya.
Secara terperinci prinsip kerja termometer digital dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Sensor yg berupa
PTC atau NTC dengan tingkat sensitifitas tinggi akan berubah nilai tahanannya
jika terjadi sebuah prubahan suhu yg mengenainya.
2. Perubahan nilai
tahanan ini linear dengan perubahan arus, sehingga nilai arus ini bisa
dikonversi ke dalam bentuk tampilan display
3. Sebelum
dikonversi, nilai arus ini di komparasi dengan nilai acuan dan nilai offset di
bagian komparator, fungsinya untuk menerjemahkan setiap satuan amper ke dalam
satuan volt yg akan dikonversi ke display.
Pembacaan pengukuran termometer ini dilakukan langsung dari nilai display
dengan memperhatikan garis segmen yang ada.
a) Kalibrasi Termometer Digital
Kalibrasinya biasa menggunakan kalibrator manual atau otomatis, kalibrator
manual suhu yg dikenakan ke sensor adalah suhu pemanas nyata dimulai dari 0
derajat untuk setting ofsetnya. Kalibrasi otomatis terdiri dari suhu pemanas
dan checker untuk gain dalam rangkaian komparatornya
b) Material Penyusun Termometer Digital
Termometer digital memiliki bagian penyususn terpenting. Material penyusun
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sensor PTC/ NTC
2. Komparator
(OP-amp dan sejenisnya)
3. ANALOG to
Digital konverter
4. Dekoder display
(IC 7447 TTL misalnya)
5. Display (7
segmen, LCD, monitor)
8. Termometer Merkuri
Termometer merkuri
adalah jenis termometer yang sering digunakan oleh masyarakat awam. Merkuri
digunakan pada alat ukur suhu termometer karena koefisien muainya bisa
terbilang konstan sehingga perubahan volume akibat kenaikan atau penurunan suhu
hampir selalu sama.
Alat ini terdiri dari
pipa kapiler yang menggunakan material kaca dengan kandungan Merkuri di ujung
bawah. Untuk tujuan pengukuran, pipa ini dibuat sedemikian rupa sehingga hampa
udara. Jika temperatur meningkat, Merkuri akan mengembang naik ke arah atas
pipa dan memberikan petunjuk tentang suhu di sekitar alat ukur sesuai dengan
skala yang telah ditentukan. Skala suhu yang paling banyak dipakai di seluruh
dunia adalah Skala Celcius dengan poin 0 untuk titik beku dan poin 100 untuk
titik didih.
Termometer Merkuri
pertama kali dibuat oleh Daniel G. Fahrenheit. Peralatan sensor panas ini
menggunakan bahan Merkuri dan pipa kaca dengan skala Celsius dan Fahrenheit
untuk mengukur suhu. Pada tahun 1742 Anders Celsius mempublikasikan sebuah buku
berjudul “Penemuan Skala Temperatur Celsius” yang diantara isinya menjelaskan
metoda kalibrasi alat termometer seperti dibawah ini:
1. Letakkan silinder
termometer di air yang sedang mencair dan tandai poin termometer disaat seluruh
air tersebut berwujud cair seluruhnya. Poin ini adalah poin titik beku air.
2. Dengan cara yang sama,
tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut mendidih seluruhnya saat
dipanaskan.
3. Bagi panjang dari dua
poin diatas menjadi seratus bagian yang sama.
Sampai saat ini tiga
poin kalibrasi diatas masih digunakan untuk mencari rata-rata skala Celsius
pada Termometer Merkuri. Poin-poin tersebut tidak dapat dijadikan metoda
kalibrasi yang akurat karena titik didih dan titik beku air berbeda-beda
seiring beda tekanan.
Cara Kerja :
1. Sebelum terjadi
perubahan suhu, volume Merkuri berada pada kondisi awal.
2. Perubahan suhu
lingkungan di sekitar termometer direspon Merkuri dengan perubahan volume.
3. Volume merkuri akan
mengembang jika suhu meningkat dan akan menyusut jika suhu menurun.
4. Skala pada termometer
akan menunjukkan nilai suhu sesuai keadaan lingkungan.
9. Termometer Galileo
Termometer Galileo (atau termometer
Galilea), dinamai fisikawan Italia, Galileo Galilei, adalah termometer yang terbuat
dari gelas silinder tertutup berisi cairan bening dan serangkaian benda
yang kerapatannya sedemikian rupa
sehingga mereka naik atau turun sesuai perubahan suhu.
Di dalam cairan
digantungkan sejumlah beban. Umumnya beban tersebut dilekatkan pada bola kaca tersegel
yang berisi cairan berwarna untuk efek estetika. Saat suhu berubah, kerapatan
cairan di dalam silinder turut berubah yang menyebabkan bola kaca bergerak
timbul atau tenggelam untuk mencapai posisi di mana kerapatannya sama dengan
cairan sekelilingnya atau terhenti oleh bola kaca lainnya. Bila perbedaan
kerapatan bola kaca sangat kecil dan terurutkan sedemikian rupa sehingga yang
kurang rapat berada di atas dan yang terapat berada di bawah, hal tersebut
dapat membentuk suatu skala suhu.
Suhu dibaca dari
ukiran piringan logam di setiap bola kaca. Biasanya sebuah celah memisahkan
bola kaca atas dengan bola kaca bawah, berarti nilai suhu berada di antara
kedua nilai label baca di setiap sisi celah. Bila bola kaca melayang-layang di
celah, berarti nilai label baca mendekati suhu lingkungan.
Untuk mencapai
keakuratan yang sesuai, toleransi beban harus dibuat kurang dari 1/1000 per
satu gram (1 miligram). Termometer
Galilea bekerja dengan prinsip daya apung. Daya apung sendiri
menentukan apakah suatu benda mengapung atau tenggelam dalam cairan, serta
memberi penjelasan mengapa perahu yang terbuat dari baja bisa mengapung (sementara batangan
baja padat dengan sendirinya akan tenggelam).
Satu-satunya faktor
yang menentukan apakah suatu objek besar naik atau turun dalam suatu cairan
tertentu, berkaitan dengan kerapatan objek terhadap kerapatan cairan di mana ia
ditempatkan. Jika massa benda lebih besar dari massa cairan pengisi, objek
tersebut akan tenggelam. Jika massa benda kurang dari massa cairan pengisi,
objek tersebut akan mengapung.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Termometer
adalah alat untuk mengukur suhu dengan cepat dan menyatakan dengan suatu angka.
Saat ini banyak jenis-jenis temometer.
2. Contoh
sifat - sifat zat yang biasa digunakan untuk membuat termometer
adalah:
a) Pemuaian suatu
kolom cairan dalam suatu kapiler,
b) Hambatan listrik
dan seutas kawat platina,
c) Beda potensial
pada suatu termokopel,
d) Pemuaian suatu
keeping bimetal,
e) Tekanan gas pada
volum tetap,
f) Radiasi yang
dipancarkan benda.
3. Beberapa sifat
yang mutlak dibutuhkan oleh sebuah termometer adalah:
a) Skalanya mudah
dibaca,
b) Aman untuk
digunakan,
c) Kepekaan
pengukurannya,
d) Lebar jangkauan
suhu yang mampu diukur.
4. Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu
akurasi alat ukur sesuai
dengan rancangannya serta kalibrasi biasa
dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
5. Jenis – jenis termometer :
a. Termometer cairan
1) Termometer raksa
2) Termometer
alcohol
3) Termometer
cairan dalam kehidupan keseharian
a) Termometer
klinis (termometer badan)
b) Termometer
dinding (termometer ruangan)
c) Termometer
maximum dan minimum six-Bellani
d) Termometer
laboratorium
b. Termometer gas
c. Termometer zat
padat
1) Termometer
platina
2) Termometer bimetal
3) Termometer
resistor
d. Termometer
termistor
e. Termometer
termokopel
f. Termometer Optis
1) Pirometer
2) Termometer
inframerah
g. Termometer Digital
h. Termometer Merkuri
i. Termometer Galileo
B. Saran
Dalam melakukan pengukuran suhu harus di perhatikan
alat ukur yang di gunakan karena alat ukur termometer ada beberapa macam sesuai
dengan kegunaannya masing – masing. Serta sebelum melakukan pengukuran sebaiknya
pahami terlebih dahulu prinsip kerja dari alat tersebut agar tidak terjadi
kesalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Indrawan, Tunggal Sae. 2011. Bahan Pengisi Dan Ragam Termometer. http://semi-yanto.blogspot.com/2011/08/bahan-pengisi-dan-ragam-termometer.html. Diakses tanggal
30 November 2011.
Kristanto, Arif. 2009.
Suhu dan Pengukurannya. http://arifkristanta.wordpress.com/belajar-online/suhu-dan-pengukurannya/.Diakses tanggal 30
November 2011.
Landis, Fred.
2005. Microsoft Encarta Reference Library
http://en.wikipedia.org/wiki/Termometer. Diakses tanggal 28 November 2011.
http://en.wikipedia.org/wiki/Termometer. Diakses tanggal 28 November 2011.
Ningsih, Khoiriah Hadi. 2011. Termometer. http://riahani.blogspot.com/2011/04/termometer.html. Diakses tanggal
28 November 2011.
Tim Abdi Guru. 2007. IPA
Terpadu untuk SMP Kelas VII. Jakarta. Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar